Review Film Twaalf Uur Van Semarang (12 Jam di Semarang)

29 Mar 2015

Film yang dibuat oleh komunitas Pecinta Sejarah Kota Semarang atau Lopen ini mengangkat kehidupan 12 jam di Semarang dengan 4 kisah dalam 1 film. Kemolekan kota Semarang pun dijual dengan kemasan menarik disini. Berikut reviewnya.

Saya kagum dengan komunitas Lopen Semarang ini membuat satu film menarik seputar Semarang. Apalagi dari aktivitasnya, komunitas ini bukanlah komunitas film di kota Lumpia. Jadi, ini satu alasan saya untuk menggambarkan film ini selanjutnya.

Kategori Omnibus

Tahun 2014, kategori film dengan banyak cerita dalam satu film sedang menanjak waktu itu. Nah kebenaran sekali, yang saya tangkap dari film dengan judul bahasa Belanda ini seperti itu.

Ada 4 cerita yang dimulai dari cerita Makan, Kuli(ah), Kakeane dan terakhir, Ver Van Huis. Dari sisi sinematografi, film mereka sudah terbilang baik untuk film perdana. Apalagi mereka hanya menggunakan perangkat seadanya. Bukan alat profesional pada umumnya.

Dari keempat cerita, hanya satu yang benar-benar menggairahkan minat saya untuk bersemangat menonton film ini. Judulnya Kakeane. Berulang kali bahasa Semarangan ini disebut dalam obrolan 2 aktor yang bermain disini. Bahkan, karena tidak melalui badan sensor film, tentu bahasa yang lumayan kurang sreg ditelinga menjadi lebih seru dan menyatu.

Benang merah dari keempat cerita ini baru benar-benar menyatu setelah cerita Ver Van Huis hadir dibagian akhir. Cerita tentang wisatawan dari Belanda, Ayah dan anaknya, datang ke kota Semarang. Rupanya, sang ayah pernah tinggal dan besar di kota yang terkenal dengan Lawang Sewunya ini.

Indahnya Semarang

Daya tarik kota Semarang benar-benar ditonjolkan lewat film berdurasi 70 menit ini. Yah, film selalu menjadi media publikasi secara real untuk mempromosikan kemolekan yang kurang terekspos dan memberikan sentuhan yang lebih indah.

Tempat-tempat yang jadi lokasi syuting mereka seperti pelabuhan Tanjung Mas, Lawang Sewu, jalan Pahlawan dan masih banyak lagi membuat siapa saja yang pernah tinggal atau saat ini tinggal di Semarang akan terhanyut dengan perasaan rindu.

Film komunitas

Melihat para kru dan pemain yang hadir dalam cerita film ini, bahkan hadir juga di gala premiere-nya, orang-orang yang terlibat merupakan orang-orang komunitas. Baik dari Lopen sendiri maupun dari berbagai komunitas.

Semangat kolaborasi menjadi bagian terpenting disini. Selain itu, dukungan dari lembaga yang mendukung pun perlu diapresiasi. Oh iya, film ini rencananya akan roadshow beberapa kota seperti Yogyakarta, Bandung, Jakarta dan Pamulang. Ikutin akun twitter mereka untuk mendapatkan info lengkap acara ini.

Secara keseluruhan, film ini menjadi tontonan menarik. Maklum, beberapa pemain ada yang dikenal. Jadi, merasa gimana melihat mereka menjadi pemain film.

Selangkah lebih maju, saya melihat antusias film ini begitu besar. Khususnya Lopen Semarang yang ingin mengisahkan kota dimana mereka tinggal adalah kota yang menarik.

Saya berharap kedepan, akan lebih banyak lagi film yang mengangkat konten lokal dengan kisah-kisah menarik lainnya. Yang mau nonton, simak teaser mereka dibawah ini.

@asmarie_


TAGS Review Film


-

Author

Follow Me